Gebrakkasus.com – LAMPUNG SELATAN — Pencopotan papan bunga bernada kritik yang dikirimkan untuk HUT Bupati Radityo Egi Pratama memicu tanggapan tegas dari pengirimnya, Nurul Ikhwan. Mantan Anggota DPRD Provinsi Lampung ini menilai tindakan tersebut justru memperkuat kesan bahwa Pemkab Lampung Selatan belum siap menerima kritik masyarakat secara terbuka.
Papan Dicopot, Pesan Tetap Menggema
Papan bunga yang dipasang di depan Kantor Bupati berisi pesan:
“Selamat Ulang Tahun Radityo Egi. Semoga kaya harta seperti Bu Zita, di tengah angka kemiskinan Lamsel yang tak berubah.”
Hanya beberapa jam setelah menjadi sorotan publik, papan tersebut dicopot sekitar pukul 13.28 WIB oleh karyawan toko bunga atas permintaan seseorang yang mengaku sebagai staf komunikasi Bupati, dengan alasan isi pesan dinilai “tidak enak dibaca”. Sementara papan bunga kiriman Syaifunnaim (Kang Ayi) dipindahkan masuk ke dalam halaman kantor agar tidak terlihat dari jalan raya.
Nurul Ikhwan: “Kritik Dijawab dengan Kinerja, Bukan Dihilangkan”
Menurut Nurul, pesan yang ia sampaikan bukan serangan pribadi, melainkan kritik atas persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
“Justru yang menjadi perhatian adalah pesan di bagian bawah — menyinggung kemiskinan di Lampung Selatan yang masih menjadi pekerjaan rumah. Kritik itu seharusnya dijawab dengan kinerja, bukan dengan menghilangkan media penyampaiannya.”
Ia menyoroti kontradiksi nyata antara pernyataan resmi Pemkab dan tindakan di lapangan:
“Kalau pemerintah mengatakan tidak antikritik, silakan buktikan. Tapi ketika papan bunga berisi kritik justru dicopot atau dipindahkan, hal itu menimbulkan kesan sebaliknya. Di situlah letak paradoksnya.”
Kritik Adalah Kontrol Sosial, Bukan Serangan
Nurul menegaskan bahwa menyampaikan kritik adalah hak warga negara dan bagian dari kontrol sosial yang wajar dalam demokrasi:
“Kritik tidak semestinya dipandang sebagai serangan terhadap pemerintah, melainkan sebagai pengingat agar penyelenggara negara tetap fokus menyelesaikan persoalan masyarakat.”
Ia mempertanyakan alasan pencopotan yang dilakukan tepat setelah pesan menjadi sorotan publik, seolah-olah kebenaran yang disampaikan terlalu menyakitkan untuk dihadapi secara terbuka.
🤔 Pertanyaan yang Belum Terjawab
Sementara itu, Hendry Kurniawan (Kabag Umum Setdakab sekaligus Plt. Kepala Dinas Kominfo) menyampaikan terima kasih atas kritik dan mengaku menjadikannya bahan evaluasi. Namun, ia tidak menjelaskan alasan pencopotan maupun pemindahan papan bunga.
Publik pun kini mempertanyakan:
Apakah kritik benar-benar diterima sebagai bahan evaluasi, atau hanya diterima selama tidak mengusik kenyamanan penguasa?
Karena dalam demokrasi, keterbukaan tidak diukur dari kata-kata “kami menerima kritik”, melainkan dari keberanian menghadapi kritik itu sendiri di ruang publik — tanpa menyembunyikannya. (*Red)












