Gebrakkasus.com – LAMPUNG SELATAN — Tak berselang lama setelah pemberitaan dua papan bunga bernada kritik untuk Bupati Radityo Egi Pratama menyebar luas, terjadi hal yang memicu tanda tanya besar di ruang publik. Kurang dari satu jam setelah berita terbit, satu papan bunga dicopot dan dibawa pulang, sementara yang lain dipindahkan masuk ke dalam halaman kantor agar tidak terlihat dari jalan raya.
Papan Nurul Ikhwan Dicopot & Dibawa Pulang
Papan bunga kiriman Nurul Ikhwan, mantan anggota DPRD Provinsi Lampung, yang berisi sindiran:
“Selamat Ulang Tahun Radityo Egi. Semoga kaya harta seperti Bu Zita, di tengah angka kemiskinan Lamsel yang tak berujung.”
Terlihat dicopot oleh dua orang karyawan Kalianda Florist sekitar pukul 13.28 WIB dan dibawa pergi menggunakan kendaraan.
Salah satu pekerja mengaku hanya menjalankan perintah:
“Kami cuma disuruh bos mengambil papan bunga ini. Katanya ada yang mengaku staf komunikasi Bupati meminta supaya papan itu diambil karena dinilai tidak enak dibaca.”
Sementara pemilik toko bunga, Gito, enggan menjelaskan rinci siapa yang menghubunginya dan tidak menyebutkan identitas pihak yang mengatasnamakan staf Bupati.
Papan Kang Ayi Dipindahkan Masuk, Dihadapkan ke Dinding
Papan bunga kiriman Syaifunnaim (Kang Ayi), Ketua Umum LPKSM-GML, yang berisi pesan:
“Barakallah fii umrik Pak Bupati. Panjang umur sehat selalu. Jangan sampai Lamsel OTT KPK lagi ya.”
Tidak ikut dicopot, namun dipindahkan sekitar 2–5 meter ke dalam halaman kantor dan arahnya diubah menghadap gedung perkantoran — bukan lagi menghadap jalan raya. Akibatnya, pesan yang semula mudah dibaca masyarakat kini tidak lagi terlihat dari luar pagar.
Pemindahan dilakukan oleh tiga orang staf Sekretariat Bupati atas instruksi Kepala Bagian Umum Setdakab, Hendry Kurniawan (juga Plt. Kepala Dinas Kominfo).
Pemerintah: “Terima Kasih atas Kritik”, Tapi Tidak Jelaskan Alasan Pencopotan
Dikonfirmasi, Hendry Kurniawan menyampaikan:
“Pada prinsipnya Pemda mengucapkan terima kasih kepada dua warga yang telah mengirimkan papan bunga, termasuk kritik dan sindiran yang disampaikan. Semua masukan menjadi perhatian dan bahan evaluasi.”
Namun, Hendry tidak menjelaskan secara tegas alasan pencopotan maupun pemindahan. Ia juga tidak mengonfirmasi apakah benar ada staf komunikasi Bupati yang meminta penarikan papan bunga tersebut.
Pertanyaan Besar di Ruang Publik
Tindakan mencopot dan memindahkan papan bunga ini memunculkan kontradiksi yang mencolok:
– ✅ Di satu sisi: Pemda menyatakan menerima kritik dan tidak antikritik
– ⚠️ Di sisi lain: Media penyampaian kritik justru disingkirkan dari pandangan masyarakat
Masyarakat pun bertanya:
“Kalau benar menerima kritik, kenapa pesannya harus dihilangkan dari ruang publik? Apakah kritik itu menyakitkan, atau kebenarannya tidak bisa ditampakkan?”
“Yang jadi masalah bukan isinya, tapi responsnya. Kalau dijawab dengan data dan kinerja, papan bunga itu akan jadi bukti demokrasi. Tapi kalau dicopot, kesannya seolah ada yang ditutupi.”
Catatan Penutup
Kritik yang disampaikan secara damai, tanpa ujaran kebencian, dan melalui media papan bunga adalah bagian dari kehidupan demokrasi. Ruang publik semestinya tetap memberi tempat bagi ekspresi tersebut.
Yang kini memicu tanda tanya publik bukan lagi isi pesan papan bunga, melainkan:
Ada apa sehingga pesan tersebut harus disembunyikan dari pandangan masyarakat tanpa penjelasan yang transparan?
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan resmi yang menjelaskan apakah permintaan pencopotan benar berasal dari lingkungan Bupati, maupun alasan lain yang mendasari tindakan tersebut. (Tim Redaksi)












