Kesbangpol Temanggung Ajak Generasi Muda Rawat Kebhinekaan, Dialog Pancasila Satukan 17 Elemen Masyarakat

TEMANGGUNG | Semangat kebhinekaan dan persatuan mengemuka dalam Dialog Pembauran Kebangsaan Lintas Pelajar, Mahasiswa, dan Pemuda yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Temanggung di halaman Kantor Kesbangpol, Senin (1/6/2026).

Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Lahir Pancasila itu mempertemukan 17 elemen masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, organisasi kepemudaan, hingga perwakilan kelompok masyarakat minoritas dalam satu ruang dialog yang hangat dan terbuka.

Sekretaris Daerah Kabupaten Temanggung Tri Winarno dan Kepala Kesbangpol Temanggung Tri Raharjo turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Kepala Kesbangpol Temanggung Tri Raharjo menegaskan, keberagaman yang dimiliki Kabupaten Temanggung harus menjadi kekuatan untuk memperkokoh persatuan, bukan sebaliknya.

Menurutnya, Kesbangpol ingin menjadi rumah bersama bagi seluruh elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang suku, ras, agama, maupun golongan.

“Kesbangpol harus menjadi wadah bagi semua kalangan. Di sinilah ruang untuk saling mengenal, berdialog, dan membangun kebersamaan sebagai bagian dari masyarakat Temanggung,” ujarnya.

Dialog yang mengangkat tema “Pancasila Masih Relevan Nggak Sih?” itu berlangsung dinamis. Peserta secara aktif menyampaikan pandangan tentang makna perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebagian menilai keberagaman merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga, sementara lainnya mengingatkan bahwa perbedaan dapat memicu gesekan apabila tidak disertai sikap toleransi dan saling menghormati.

Kepala Bidang Kesbangpol Temanggung Sriwidodo mengatakan, kondisi masyarakat Temanggung selama ini menjadi contoh harmonisasi keberagaman yang patut dipertahankan.

Ia menilai masyarakat dari berbagai suku, ras, dan agama telah mampu hidup berdampingan secara damai serta menjadikan perbedaan sebagai bagian dari identitas daerah.

“Keberagaman di Temanggung selama ini bukan menjadi sumber perpecahan, tetapi justru menjadi perekat kehidupan sosial masyarakat. Kondisi ini harus terus dijaga bersama,” katanya.

Suasana diskusi semakin menarik ketika peserta mendapat pertanyaan pemantik mengenai kemungkinan yang terjadi apabila Pancasila tidak lagi menjadi dasar kehidupan berbangsa. Beragam argumentasi pun muncul, mulai dari pentingnya Pancasila sebagai pemersatu hingga kekhawatiran akan munculnya perpecahan di tengah masyarakat yang majemuk.

Melalui dialog tersebut, Kesbangpol berharap generasi muda tidak hanya memahami nilai-nilai Pancasila secara teoritis, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ditutup dengan penandatanganan Ikrar Pembauran Kebangsaan dan foto bersama seluruh peserta sebagai simbol komitmen menjaga persatuan di tengah keberagaman.

“Pancasila tidak boleh berhenti sebagai slogan atau seremoni tahunan. Nilai-nilainya harus hidup dalam pergaulan, pendidikan, dan kerja kolaboratif anak muda sebagai penerus bangsa,” pungkas Tri Raharjo. (YSP)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *