Gebrakkasus.com – LAMPUNG, – Dikala itu Pagi belum benar-benar terang ketika ponselnya bergetar. Ada sebuah pesan singkat yang masuk, memberi kabar tentang peristiwa kejadian yang harus segera diliput.
Disini tanpa banyak tanya, seorang jurnalis/wartawan meraih tasnya, memasukkan buku catatan kecil, perekam suara, kamera lalu bergegas menuju lokasi.
Begitulah hari-harinya dimulai bukan dengan hitung-hitungan untung atau rugi, bukan pula dengan bayangan tumpukan rupiah. Melainkan dengan satu tekad sederhana: Mencari kebenaran dan menyampaikannya kepada publik.
Namun’ Profesi Wartawan sering kali dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang tidak suka dengan mereka. Ada yang mengira pekerjaan ini menjanjikan popularitas, ada pula yang menganggapnya sekadar perantara cerita.
Padahal di balik setiap berita yang terbit, ada waktu yang dikorbankan, ada tenaga, pikiran yang dihabiskan, bahkan ada risiko yang tak jarang mengintai seseorang jurnalis.
Wartawan bukanlah profesi untuk mengejar kekayaan. Jika tujuan utamanya adalah harta, mungkin banyak jalan lain yang lebih cepat dan lebih menjanjikan.
Namun’ bagi mereka yang bertahan didunia jurnalistik, itu adalah sesuatu yang lebih bernilai dari pada sekadar materi: Yaitu Makna.
Makna ketika sebuah tulisan mampu membuka mata publik. Maknanya saat suara warga kecil yang nyaris tak terdengar akhirnya mendapat ruang. Bahkan Maknanya ketika sebuah keritikan membuahkan perubahan, sekecil apa pun itu.
Di lapangan, seringkali wartawan belajar tentang keseimbangan hidup. Antara idealisme dan realitas. Antara tekanan deadline dan tanggung jawab moral. Antara menjaga hubungan dengan narasumber dan tetap berdiri di atas independensi.
Tak jarang mereka pulang larut malam, melewatkan waktu bersama keluarganya demi memastikan fakta yang disajikan akurat.
Ada kalanya mereka menerima kritik, bahkan cibiran. Namun’ di tengah semua itu, ada kepuasan batin yang sulit diukur dengan angka.
Menjadi jurnalis berarti berdamai dengan kesederhanaan. Bekerja dengan hati, berjalan dengan nurani. Mereka memahami bahwa keberhasilan bukanlah selalu tentang besaran penghasilannya, akan tetapi tentang seberapa besarkah manfaat yang bisa diberikan kepada publik.
Dibalik berita yang sering kali kita baca setiap harinya, ada dedikasi yang tak terlihat. Ada perjuangan yang tak selalu diketahui semua orang. Dan di sanalah letaknya makna bahwa profesi jurnalis ini bukanlah sekadar pekerjaan, melainkan panggilan dari Hati Nurani.
“Karena pada akhirnya, Jurnalis/wartawan tidak sedang mengejar harta. Mereka sedang menjaga keseimbangan hidup, antara pengabdian dan kemanusiaan”.
Seperti dalam isi Makna Pancasila ini.
Lima Sila Pancasila:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa: Bangsa Indonesia beriman dan bertakwa kepada Tuhan.
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Mengutamakan empati, martabat, dan keadilan tanpa diskriminasi.
3. Persatuan Indonesia: Menjaga keutuhan bangsa di atas kepentingan pribadi/golongan.
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan: Mengutamakan musyawarah untuk mufakat.
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Menciptakan kesejahteraan yang merata bagi seluruh masyarakat.
(*Fen*)












