Ketua DPRD Lamsel Tak Tau, Terkait 50 Wakil Rakyat, Satu Pun Takada Dikantor

Gebrakkasus.com – LAMSEL, – 50 Wakil Rakyat tak Satu pun yang ada dikantor, ketika itu Ratusan massa dari buruh PT San Xiong Steel (SXT) Merasa sangat kecewa lalu membakar ban bekas didepan kantor DPRD kabupaten Lampung Selatan.

Ketua DPRD kabupaten Lamsel Erma yusneli mengatakan tidak tahu dalam aksi unjuk rasa yang digelar pada hari Senin tanggal 6/4/2026 yang lalu.

Erma menjelaskan bahwasanya dia belum mengetahui kabarnya kalau ada pembakaran ban bekas didepan kantor DPRD kabupaten Lamsel.

“Kami itu belum ada pemberitahuannya terkait hal itu” ucapnya ketua DPRD Lamsel.

Lanjutnya erma, jadikan kami itu sudah pasilitas pak, masalah itu dan kami ini cuma pasilitas saja dan semua tergantung pihak pabrik itu sendiri. kemaren kan sudah dijanjikan juga oleh pak Bupati.

Saat disinggung soal apakah sudah mengetahui kalau akan ada pertemuan lagi antara Pemkab Lamsel dan pihak perusahaan juga DPRD?.

“Sampai saat ini belum ada mungkin secepatnya “katanya Erma menaiki mobil menggunakan para jurnalis.

Pertanyaan nya lalu apa tugasnya sebagai sekretaris DPRD kabupaten Lamsel?, apakah sekwan tidak memberikan informasi kepada ketua DPRD dan para anggota DPRD?

 

Sebelumnya diberitakan media ini berjudul: Takada Satu Pun Wakil Rakyat, Massa Aksi Kecewa Bakar Ban Didepan Kantor DPRD.

Kembalinya aksi unjuk rasa ini di depan DPRD dan kantor Bupati Lamsel, untuk mendesak Bupati Radityo Egi Pratama memfasilitasi mediasi antara pekerja dan management baru di perusahaan mereka.

Mengupayakan mediasi untuk menuntut kejelasan terkait status mereka di perusahaan dan pembayaran upah yang telah nunggak selama 11 bulan. Selain itu, mereka juga menuntut Tunjangan Hari Raya (THR) yang hingga kini belum diterimanya.

Dalam aksi nya, para buruh berharap dapat bertemu langsung dengan Bupati Lampung Selatan. Namun’ harapannya mereka belum terwujud lantaran bupati sedang berada di Jakarta. Sementara itu, Wakil Bupati M. Syaiful Anwar juga dikabarkan tidak masuk kerja.

Massa Aksi sempat memanas ketika mencoba masuk ke area kantor bupati Lamsel , Upaya mereka tertahan oleh aparatur keamanan yang berjaga di pintu utama.

Situasi berangsur kondusif setelah Sekretaris Daerah (Sekda) Lampung Selatan, Supriyanto, yang turun langsung menemui para demonstran.

Di hadapan massa, Supriyanto menjelaskan bahwa tuntutan buruh masih dalam proses penyelesaian sesuai tahapan hukum yang berlaku.

“Hingga saat ini prosesnya belum selesai. Semua tahapan dari awal sampai akhir tetap kami jalankan sesuai prosedur hukum. Sejak sepekan lalu, beberapa poin juga sudah kami kantongi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah daerah akan segera menjadwalkan pertemuan antara bupati dan para buruh dalam waktu dekat.

“Saya sudah berkoordinasi dengan bapak bupati. Beliau siap bertemu setelah kembali dari Jakarta,” tambahnya.

Sebagai bentuk respons, Sekda juga memfasilitasi komunikasi langsung antara massa aksi dengan bupati melalui sambungan video call. Dalam kesempatan itu, Radityo Egi Pratama menyampaikan permohonan maafnya karena belum dapat hadir secara langsung.

“Saya mohon maaf belum bisa menemui rekan-rekan semua karena sedang berada di Jakarta. Nanti kita jadwalkan pertemuan setelah saya kembali. Aspirasi dapat disampaikan terlebih dahulu melalui bapak sekda,” ujarnya.

Di sisi lain, perwakilan massa aksi, Iwan, yang merupakan advokat dari Federasi Pergerakan Serikat Buruh Indonesia (FPSBI), menegaskan pihaknya akan kembali menggelar aksi dengan jumlah massa lebih besar jika janji pertemuan itu tidak ditepati.

Kami beri waktu dua hari untuk bisa bertemu langsung dengan bupati. Jika tidak ada kejelasan, kami akan turun dengan massa yang lebih besar,” tegasnya.

Ia juga menilai, sejumlah pertemuan sebelumnya belum menghasilkan solusi konkret bagi para buruh. Menurutnya, sudah lebih dari satu tahun para pekerja menunggu kejelasan nasib mereka.

“Kami berharap bupati bisa mengambil langkah tegas. Proses hukum memang berjalan, tetapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menunda penyelesaian, karena ada sekitar 300 buruh yang terdampak,” pungkas Iwan.

Usai berunjuk rasa di Kantor Bupati, massa bergerak ke Kantor DPRD Lampung Selatan. Namun, kedatangan mereka tidak disambut satu pun anggota dewan.

Kondisi tersebut memicu kekecewaan. Massa kemudian membakar ban di depan pintu lobi Gedung utama DPRD sebagai bentuk protes, sembari terus menyuarakan tuntutan di bawah pengawalan ketat para aparat.

Human Resources Development.(HRD), Clara menyatakan kekecewaannya terhadap sikap dan kedisplinan para anggota DPRD Lampung Selatan.

“Ini hari senin loh, masak tidak ada orang yang ngantor. Kerjanya gimana para dewan ini,” katanya.

Kami sangat menyayangkan, padahal ada 50 orang yang duduk di kursi anggota DPRD Lampung Selatan sebagai wakil rakyat, namun’ anehnya keterwakilan mereka disebut-sebut nihil.

“Ya, mereka ini kan wakil rakyat, seharusnya ada donk salah satu mewakili di dalam kantor. Tapi ini tidak ada satupun, padahal kan ada banyak anggota dewan,” ujarnya dengan nada kecewa.

Sampai berita ini diterbitkan belum ada keterangan resmi dari Sekretaris DPRD Lampung Selatan Achmad Herry, dikerahkan nomor Whatsap tidak aktif Saat dihubungi media ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *