DIY  

Lampah Sesaji Rabuk Ayem Nagari : Tapa Bisu di Jantung Malioboro

 

YOGYAKARTA |Malioboro pada Selasa (9/9) malam ini menjadi saksi ritual sunyi penuh makna bertajuk Lampah Sesaji Rabuk Ayem Nagari. Sebuah gerakan budaya yang digagas oleh Yayasan Taman Sesaji Nusantara, didukung oleh komunitas lintas iman, organisasi masyarakat, serta berbagai elemen budaya, sebagai bentuk perenungan kolektif atas dinamika sosial yang semakin memanas.

Tepat pukul 20.07 WIB, ratusan peserta berpakaian adat dan tanpa alas kaki mulai berkumpul di depan Hotel INA Garuda. Mereka berjalan perlahan menuju Titik Nol Kilometer dalam keheningan total, tanpa orasi, tanpa teriakan, bahkan tanpa narasi. Sebuah bentuk tapa bisu, atau yang dikenal sebagai lampah samadhi bantala, yakni metode meditasi tanah (grounding) melalui langkah sunyi di tengah keramaian.

“Peserta akan berjalan dalam diam, berbicara melalui simbol-simbol sesaji sebagai bentuk komunikasi non-verbal,” ujar Farhan, Koordinator Lapangan acara.

Simbolisme Sesaji: Bahasa Sunyi Penuh Makna

Tak hanya berjalan, peserta juga membawa berbagai sesaji yang sarat makna filosofis dan spiritual:

Gedang Sanggan: Simbol harapan besar atas masa depan.

Tumpeng Kapuranta: Lambang permohonan maaf dan rasa syukur karena telah dihidupi oleh tanah.

Tumpeng Tawa: Penolak bala dan penawar dari niat buruk.

Tumpeng Robyong: Ungkapan rasa syukur dan harapan akan kemakmuran.

Ingkung: Representasi kejujuran batin atas keinginan terdalam manusia.

Jajan Pasar: Simbol keberagaman dan semangat gotong royong.

Tumpeng Panchabuta: Perlambang harmonisasi manusia dengan alam dan seluruh unsur semesta.

Tiga Dimensi Makna: Pribadi, Sosial, dan Universal

Ritual ini menyuarakan makna dalam tiga lapis:

Pribadi: Sebagai pembersihan diri dari energi negatif, kesialan hidup, dan penyakit melalui kontak langsung dengan bumi.

Sosial: Sebagai respon terhadap konflik sosial, politik manipulatif, dan perilaku pejabat korup, licik, dan penuh kepalsuan.

Universal: Sebagai penghormatan terhadap alam semesta, leluhur, dan seluruh makhluk hidup.

Setibanya di Titik Nol, seluruh peserta duduk dalam formasi yang telah diatur. Tanpa suara, mereka meleburkan doa dan niat — baik pribadi maupun kolektif — sebagai penutup ritual.

“Ini adalah bentuk kejujuran batin dan penghormatan terhadap kehidupan, tanah, dan keberagaman,” ungkap Eko Hand, Ketua Yayasan Taman Sesaji Nusantara.

Lampah Sesaji Rabuk Ayem Nagari bukan sekadar ritual budaya, melainkan sebuah seruan diam untuk kembali pada akar, pada kesadaran manusia sebagai bagian dari semesta. Sebuah perlawanan tanpa kekerasan, dan kontemplasi dalam sunyi yang menggetarkan. (sut)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *