NGANJUK | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Nganjuk mendadak menjadi sorotan. Menu yang seharusnya menjadi asupan bergizi bagi para pelajar justru berujung pada dugaan keracunan massal.
Hingga Kamis (3/9/2026), data sementara yang dihimpun di lapangan menunjukkan sedikitnya 107 siswa mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG yang didistribusikan dari Dapur SPPG Gadung 2 Jegles, Nganjuk.
Korban tersebar di sejumlah satuan pendidikan. Rinciannya, 100 siswa SMAGA, 4 siswa SDN Balungpacul, dan 3 siswa SLB.
Dari total tersebut, 27 siswa masih menjalani perawatan medis. Kondisi ini menambah serius perhatian terhadap pelaksanaan program MBG, terlebih makanan tersebut dikonsumsi oleh anak-anak sekolah yang menjadi kelompok penerima manfaat.
Peristiwa bermula setelah makanan MBG dibagikan kepada para siswa. Sejumlah siswa kemudian mengalami keluhan kesehatan dan harus mendapatkan penanganan medis.
Situasi tersebut memunculkan pertanyaan besar mengenai keamanan makanan yang diproduksi dan didistribusikan melalui dapur SPPG.
Apakah persoalan terjadi pada bahan baku? Proses pengolahan? Penyimpanan? Atau justru pada saat makanan didistribusikan hingga dikonsumsi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut kini menjadi sorotan publik.
Meski di lapangan muncul istilah “menu beracun”, penyebab pasti kejadian tersebut belum dapat dipastikan sebelum hasil pemeriksaan medis dan laboratorium keluar. Sampel makanan dan bahan terkait perlu diperiksa untuk memastikan apakah terdapat kontaminasi atau faktor lain yang menyebabkan puluhan siswa mengalami gangguan kesehatan.
Yang menjadi perhatian, angka korban terus menjadi perhatian dan data masih dapat berubah seiring proses pendataan serta pemeriksaan terhadap para siswa.
Program MBG sejatinya hadir untuk memastikan anak-anak mendapatkan makanan yang aman sekaligus bergizi.
Namun ketika makanan yang dibagikan justru diduga membuat puluhan siswa jatuh sakit, maka standar keamanan pangan, proses produksi, pengawasan, hingga distribusi wajib dipertanyakan dan dievaluasi secara menyeluruh.
Kini publik menunggu langkah konkret pemerintah dan pihak berwenang.
Bukan sekadar mencari siapa yang bertanggung jawab, tetapi juga memastikan mengapa makanan yang seharusnya menyehatkan anak-anak justru berujung pada perawatan di rumah sakit.
107 siswa terdampak, 27 masih dirawat. Ini bukan lagi sekadar persoalan menu makan siang. Ini menyangkut keselamatan anak-anak. (Ev)












