Gebrakkasus.com – LAMPUNG SELATAN – Polemik ketenagakerjaan mencuat di Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan. Sebanyak 219 kepala keluarga yang selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung tenaga kerja di PT Ciomas Japfa Food mendadak kehilangan pekerjaan setelah masa kontrak kerja mereka berakhir. Hingga kini nasib mereka hanya diselimuti iming-iming tanpa kejelasan pasti.
PT Ciomas Adisatwa, anak usaha dari Japfa Comfeed yang dikenal sebagai salah satu penopang perekonomian warga setempat, kini dituding melepaskan pekerjanya begitu saja. Padahal operasional pabrik tetap berjalan selama 24 jam, mesin terus berputar, dan kegiatan produksi tidak terhenti.
Kecewa Dilepas Tanpa Kepastian
Isak tangis dan kekecewaan terungkap saat salah satu mantan karyawan berbicara kepada awak media, Sabtu (20/6/2026). Ia merasa pengabdiannya selama ini tidak dihargai.
“Kami sangat kecewa setelah mengabdi bertahun-tahun. Begitu masa kontrak berakhir, kami langsung dicoret tanpa penjelasan apa pun. Sekarang perusahaan malah membuka lowongan sistem harian lepas, tapi kami khawatir itu hanya iming-iming belaka. Kenapa kami yang sudah hafal seluk-beluk pekerjaan justru ditinggalkan?” ujarnya dengan suara bergetar.
Di lapangan terlihat sejumlah fakta yang memicu pertanyaan: produksi berjalan normal, truk pengangkut barang hilir mudik setiap hari, namun informasi lowongan kerja tidak disampaikan kepada mantan karyawan. Bahkan beredar kabar bahwa perusahaan justru merekrut tenaga kerja dari luar wilayah, sehingga warga sekitar hanya bisa menjadi penonton.
Rencana Aksi Mendesak Perusahaan
Koordinator perwakilan pekerja, Amirudin, menyatakan tidak akan tinggal diam. Bersama Gabungan Pekerja, Mahasiswa dan Masyarakat (GPMM), mereka berencana mendatangi kantor perusahaan pada hari Senin mendatang dengan satu tuntutan utama: memprioritaskan kembali tenaga kerja lokal.
“Jangan sampai perusahaan hanya memberi dampak limbah dan polusi ke Sidomulyo, tapi tidak memberi penghidupan bagi warganya. Kami siap bekerja dengan sistem apa pun—borongan, harian, maupun kontrak—asalkan kami diprioritaskan,” tegas Amirudin dengan nada geram.
Sementara itu, Ketua Umum GALI, Heru Herwanto, juga menyampaikan sikap pengawasannya. “Kami mengawal aspirasi dan nasib para pekerja ini. Tidak ada kejelasan setelah kontrak berakhir, maka kami minta agar mereka dapat dipekerjakan kembali tanpa diskriminasi. Jangan sampai janji yang diberikan hanya menjadi harapan palsu,” katanya.
Manajemen Bungkam, Pemerintah Diminta Turun Tangan
Hingga berita ini ditayangkan, manajemen PT Ciomas Japfa Food belum memberikan keterangan resmi maupun sosialisasi apa pun terkait masalah ini. Sikap diam tersebut dinilai sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap nasib ratusan keluarga yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan itu.
Masyarakat pun melontarkan sejumlah pertanyaan: Jika masih butuh tenaga kerja, mengapa 219 orang yang sudah berpengalaman justru dicampakkan? Apakah ini langkah efisiensi atau penggusuran tenaga lokal? Di mana tanggung jawab sosial perusahaan yang selama ini disebut sebagai tumpuan ekonomi warga?
Warga menegaskan tidak meminta belas kasihan, hanya menginginkan haknya untuk bekerja di daerah tempat tinggalnya. Mereka juga meminta perhatian serius dari Bupati Lampung Selatan dan Dinas Tenaga Kerja, agar nasib 219 kepala keluarga ini segera mendapatkan kepastian.
“Rakyat menunggu: Japfa memilih untuk peduli sesama atau membuang sesama?” pungkas warga.
(Red)












