Boyong Hambangun Projo 2026, Nganjuk Rajut Sejarah 146 Tahun dengan Spirit Gotong Royong dan Jas Merah

 

NGANJUK| Semangat kebersamaan, pelestarian budaya, dan penghormatan terhadap sejarah berpadu dalam Prosesi Boyong dan Sedekah Bumi Hambangun Projo Tahun 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Nganjuk, Sabtu (6/6/2026).

Kegiatan yang menjadi rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Nganjuk ke-146 ini berlangsung meriah dan khidmat dengan dihadiri unsur Forkopimda, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para camat, kepala desa dan lurah, kepala sekolah, tokoh masyarakat, hingga perwakilan sektor swasta.

Arak-arakan Boyong yang bergerak dari Alun-Alun Nganjuk menuju Pendopo Kabupaten Nganjuk menjadi simbol perjalanan panjang pemerintahan daerah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Ribuan masyarakat turut menyaksikan prosesi budaya tersebut yang sarat dengan nilai sejarah dan filosofi kehidupan masyarakat Nganjuk.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk, Gunawan Widagdo, menegaskan bahwa keberhasilan pelaksanaan Boyong dan Sedekah Bumi Hambangun Projo merupakan buah dari semangat gotong royong seluruh elemen masyarakat.

“Kegiatan ini dapat terlaksana berkat kebersamaan dan gotong royong yang luar biasa dari Pemerintah Kabupaten Nganjuk, pemerintah desa, dunia usaha, komunitas budaya, serta seluruh pihak yang turut mendukung. Tradisi ini adalah milik bersama yang harus terus dijaga dan dilestarikan sebagai identitas daerah,” ujar Gunawan Widagdo.

Menurutnya, Boyong Hambangun Projo bukan sekadar agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah Kabupaten Nganjuk kepada generasi muda agar tidak tercerabut dari akar budayanya.

Sementara itu, Bupati Nganjuk, Dr. Drs. Marhaen Djumadi, S.E., S.H., M.M., M.B.A., mengajak masyarakat menjadikan momentum Hari Jadi Kabupaten Nganjuk sebagai refleksi perjalanan sejarah sekaligus penguatan semangat pembangunan.

“Hari ini kita memperingati Boyong Pemerintahan Kabupaten Nganjuk yang ke-146. Perjalanan panjang Kabupaten Nganjuk tidak lepas dari sejarah beberapa kadipaten yang pernah berdiri, yaitu Berbek, Pace, Godean, dan Kertosono. Sejarah inilah yang menjadi fondasi lahir dan berkembangnya Kabupaten Nganjuk hingga sekarang,” tutur Kang Marhaen.

Ia menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan Boyong telah dimulai sejak Jumat (5/6/2026) melalui prosesi jamasan dan bedol pusaka berupa tombak serta payung kebesaran yang menjadi simbol penghormatan kepada para pendahulu.

“Jamasan dan bedol pusaka bukan hanya tradisi seremonial, tetapi juga bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah mewariskan nilai perjuangan, kebijaksanaan, dan semangat membangun daerah,” jelasnya.

Lebih lanjut, Kang Marhaen menegaskan bahwa makna Sedekah Bumi Hambangun Projo terletak pada semangat gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Nganjuk.

“Sedekah Bumi mengajarkan kita untuk selalu bersyukur, menjaga persatuan, dan memperkuat gotong royong. Yang tidak kalah penting, kita harus selalu mengingat Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dengan memahami sejarah, kita akan lebih bijak dalam melangkah menuju masa depan,” tegasnya.

Prosesi Boyong dan Sedekah Bumi Hambangun Projo 2026 menjadi bukti bahwa kemajuan daerah dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya.

Di tengah perkembangan zaman, masyarakat Nganjuk terus menunjukkan komitmennya untuk menjaga warisan leluhur sekaligus memperkuat nilai kebersamaan sebagai modal utama membangun daerah yang maju, berbudaya, dan bermartabat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *