Gebrakkasus.com — WAYPAJI, LAMPUNG SELATAN — Harapan dan permohonan tulus mengalir dari Kepala Sekolah SMKN 1 Waypaji, Kabupaten Lampung Selatan. Feriansyah, sosok yang setiap hari berdiri di barisan terdepan mendidik putra-putri daerah ini, akhirnya tak mampu lagi menahan keresahan.
Sekitar pukul 11:00 WIB, Pada hari Selasa tanggal 6/10/2026, Ia berbicara dengan suara bergetar, memohon agar pemerintah provinsi Lampung dan pusat — bahkan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pendidikan — menoleh ke sekolahnya yang nyaris tak layak dijadikan tempat menimba ilmu.

Idealnya 22 Ruang Kelas, Hanya Tujuh yang Ada
Dalam perbincangan hangat namun menyayat hati, Feriansyah membuka kenyataan pahit yang dialami 721 siswa di sekolahnya:
“Secara ideal, kami membutuhkan 22 ruang kelas untuk menampung seluruh murid dengan layak. Namun di sini, yang kami miliki hanya tujuh ruangan saja,” ungkapnya dengan nada penuh harap sekaligus prihatin.
Keterbatasan memaksa sekolah mengambil jalan terpaksa: ruang belajar yang ada dibagi-bagi menggunakan sekat triplek. Di balik papan tipis itu, suara kelas saling bersahutan, konsentrasi terpecah, dan kenyamanan belajar menjadi kemewahan yang sulit didapat.
Ujian Pakai Komputer? 223 Siswa, Hanya 23 Unit komputer.
Kesulitan tak berhenti di ruang kelas. Saat tiba waktunya pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang berbasis komputer, keterbatasan terasa semakin perih.
“Jumlah komputer yang kami miliki hanya 23 unit, sementara siswa yang harus mengikuti ujian berjumlah 223 orang,” jelas Febriansyah. Belum lagi, ruang laboratorium komputer sama sekali belum ada. Pelaksanaan ujian terpaksa menumpang di ruangan lain, bergantian, dan memakan waktu jauh lebih lama dari seharusnya.
Sekolah Kejuruan Tanpa Bengkel, Tanpa Alat Praktik
Lebih memprihatinkan lagi — SMK adalah tempat siswa dilatih memiliki keterampilan dan keahlian siap kerja. Namun di SMKN 1 Waypaji:
– Tidak ada ruang bengkel untuk praktik kejuruan;
– Belum tersedia alat pertanian padahal merupakan salah satu keahlian yang seharusnya dibina;
– Sekolah tak memiliki pagar keliling, sehingga keamanan dan ketertiban lingkungan belajar tak terjamin.
Semua kekurangan ini ditanggung bersama oleh para pendidik, siswa, dan warga sekolah — dengan kesabaran yang mulai menipis, namun harapan yang belum padam.
Kepala Sekolah Memohon: “Kami Mohon Dilihat, Kami Ingin Bermartabat”
Feriansyah tak menyembunyikan keprihatinannya. Ia menatap jauh ke depan, berharap suaranya sampai ke telinga tertinggi negeri:
“Saya berharap kepada Pemerintah Pusat, terutama Bapak Presiden Prabowo Subianto, melalui Bapak Menteri Pendidikan — kiranya dapat menoleh dan membantu kami. Siswa-siswi di sini anak-anak yang haus ilmu, mereka berhak mendapat tempat belajar yang layak. Kami tidak meminta kemewahan, hanya ruang yang memadai, alat yang cukup, dan tempat yang aman untuk mereka menuntut ilmu.”
Permohonan ini bukan untuk kepentingan pribadi. Ini adalah suara dari pinggiran pendidikan yang berjuang tetap menyala di tengah keterbatasan.
Redaksi: Mereka Juga Anak Bangsa, Berhak Belajar Layak
Berapa lama lagi sekat triplek menjadi pemisah mimpi anak-anak ini? Berapa lama lagi ujian harus bergantian karena kurang alat? Berapa lama sekolah kejuruan harus mengajar tanpa bengkel dan tanpa alat praktik?
Keterbatasan di SMKN 1 Waypaji bukan sekadar kekurangan fasilitas — ini adalah kekurangan perhatian yang harus segera dipulihkan. Setiap siswa, di mana pun berada, berhak duduk di ruang kelas yang layak, belajar dengan alat yang memadai, dan bermimpi tanpa dibatasi triplek tipis.
Redaksi Gebrakkasus.com turut menyuarakan permohonan Kepala Sekolah Feriansyah: kiranya Presiden, Menteri, dan dinas pendidikan provinsi seluruh pemangku kebijakan segera meninjau dan menindaklanjuti. Jangan biarkan mimpi anak-anak Waypaji terhalang oleh hal-hal yang seharusnya sudah ada sejak lama.
Kami akan memantau kelanjutan permohonan ini.












