Petaka MBG SMAN 1 Sampang: Bikin Nyeri, 361 Siswa Tumbang, Dapur Penyedia Akhirnya Ditutup!

 

CILACAP | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang membawa sehat, justru berujung petaka massal bagi SMAN 1 Sampang, Kabupaten Cilacap.

Sebanyak 361 siswa dilaporkan tumbang dan bertumpangan di fasilitas kesehatan usai menyantap hidangan sekolah yang diduga kuat menjadi pemicu keracunan massal.

Gejala beracun ini mulai mengerogoti tubuh para siswa sejak Selasa (22/9/2026) malam. Awalnya dianggap sakit perut biasa, situasi berubah jadi kepanikan masal pada Rabu (23/9/2026) pagi di lingkungan sekolah.

Korban berjatuhan satu per satu dengan keluhan mual hebat, pusing, diare tiada henti, hingga penglihatan berkunang-kunang.

​”Tadi pagi di sekolah tambah parah. Mual, pusing, diare, sampai pandangan kunang-kunang. Teman-teman yang kayak gini banyak banget, kayaknya ada seratusan lebih,” beber Yesilia Suwita, siswi kelas 10 E8 yang terpaksa absen belajar demi terbaring di Puskesmas Sampang.

Yesilia mengingat, menu fatal yang disantapnya terdiri dari nasi, sayur kangkung, tahu, ayam rica-rica hambar, dan semangka. Wujud makanan yang tampak biasa saja itu rupanya menyimpan potensi bahaya yang melumpuhkan ratusan siswa sekaligus.

Ironi Program Gizi: Sekolah Jadi Area Evakuasi

​Area sekolah seketika disulap jadi lokasi pemilahan medis. Pihak sekolah terpaksa memisahkan siswa yang ‘cuma’ sakit perut biasa dengan mereka yang kondisinya kritis untuk dilarikan ke RSUD dan Puskesmas Sampang.

Gelombang korban yang begitu masif tak ayal memaksa Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Cilacap menarik rem darurat.

Dapur Penyedia Resmi ‘Di-Suspend’!

Menanggapi skandal kesehatan ini, Kepala Dinkes PPKB Cilacap, Hasanuddin, menyatakan fokus utama saat ini adalah menyelamatkan nyawa para siswa. Tak mau mengambil risiko lebih besar, operasional penyedia catering MBG langsung dibekukan.

“Kami berkoordinasi agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tersebut sementara disuspend, tidak dioperasikan sampai hasil pemeriksaan selesai,” tegas Hasanuddin.

Sampel makanan sisa dan pasokan air kini telah dikirim ke Laboratorium Kesehatan (Labkes) Jawa Tengah untuk pembuktian ilmiah.

Meski otoritas masih enggan mengetok palu sebelum hasil lab keluar, penghentian total dapur penyedia menjadi bukti betapa seriusnya ancaman keselamatan yang baru saja melumpuhkan ratusan pelajar di Cilacap ini. (sut)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *