Plt. Kadisdik Lamsel: Ikut Sedih, Tapi Proses PPDB Sesuai Aturan

Gebrakkasus.com – LAMSEL – Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Selatan, Syaifulloh, S.Pd., M.Pd., akhirnya memberikan tanggapan resmi terkait kasus yang menyita perhatian publik: penolakan seorang murid berprestasi lulusan SDN 2 Sidowaluyo yang selama enam tahun selalu masuk peringkat 3 besar, namun tidak diterima di SMP Negeri 1 Sidomulyo. Pernyataan ini disampaikan pada Selasa (30/6/2026).

Plt. Kadisdik mengaku turut merasakan kekecewaan anak tersebut, namun menegaskan tidak ada pelanggaran dalam proses yang berjalan.

“Kami ikut merasakan kesedihan seperti apa yang dirasakan siswa kita yang belum diterima di sekolah impiannya. Namun kami tegaskan bahwa seluruh prosesnya sudah berjalan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa setiap kebijakan pasti memiliki sisi yang berbeda bagi masyarakat.

“Tentu setiap aturan dan kebijakan yang kami buat pasti ada yang bisa menerima dan ada yang belum. Tetapi percayalah, setiap kebijakan pemerintah tujuannya untuk kebaikan bersama.”

Tiga Kendala Utama Masalah Pendidikan

Dalam penjelasannya, Syaifulloh memaparkan tiga hal mendasar yang menjadi akar permasalahan akses pendidikan di daerah ini:

1. Keterbatasan daya tampung: Jumlah sekolah yang ada belum memadai untuk menampung seluruh lulusan, sehingga kapasitas kelas masih sangat terbatas.

2. Persebaran sekolah tidak merata: Ada desa yang letaknya jauh dari sekolah negeri, sementara di lokasi lain sekolah justru berdekatan—menyebabkan ada yang penuh sesak, namun ada pula yang kekurangan murid.

3. Stigma sekolah favorit: Masyarakat masih membedakan sekolah “unggulan” dan “biasa”, sehingga banyak yang memaksakan masuk ke sekolah tertentu meski jaraknya jauh, padahal ada sekolah negeri lain yang lebih dekat tempat tinggalnya.

Ia kembali menegaskan sistem yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan.

“Yang pasti, semua langkah kami sudah mengikuti prosedur pendidikan. Seluruh pendaftaran juga dilakukan melalui sistem aplikasi resmi, sehingga dapat dipantau dan dipertanggungjawabkan.”

Kepada wali murid yang belum beruntung, ia berpesan:

“Kami berharap tidak berkecil hati. Bisa mendaftar ke sekolah lain yang kuotanya masih tersedia, dan masih banyak sekolah swasta yang siap menampung. Pada dasarnya, sekolah di mana pun kualitasnya sama saja.”

Usulan Solusi Nyata untuk PPDB 2027

Menyikapi kejadian ini, warga dan pemerhati pendidikan merumuskan tiga usulan konkret agar kasus serupa tidak terulang lagi pada tahun ajaran mendatang:

1. Perbesar Porsi Jalur Prestasi Akademik

Masyarakat meminta agar kuota jalur prestasi ditingkatkan menjadi 30%, dengan pembagian rincian: Zonasi 40%, Afirmasi 20%, Prestasi 30%, dan Pindah Tugas 10%. Diharapkan dengan perubahan ini, murid yang menempati peringkat 1 hingga 5 terbaik se-Kecamatan Sidomulyo bisa dipastikan mendapatkan tempat di SMPN 1 Sidomulyo.

2. Gabungkan Sistem Zonasi dengan Nilai Rapor

Usulan kedua adalah menyempurnakan aturan jarak dengan bobot nilai. Contohnya: jarak tempat tinggal diberikan bobot maksimal 100 poin, lalu dikurangi seiring bertambahnya jarak. Sisa penilaian ditentukan dari nilai rapor. Dengan cara ini, anak yang tempat tinggalnya lebih jauh namun memiliki prestasi bagus masih memiliki kesempatan bersaing secara adil.

3. Bangun SMP Negeri 4 Sidomulyo

Mengingat jumlah penduduk dan lulusan SD yang terus bertambah, sementara saat ini hanya ada 3 SMP Negeri di wilayah tersebut, warga menilai kapasitas ruang kelas sudah sangat terbatas.

“Desa Sidowaluyo, Sukamarga, Sukamaju, hingga Seloretno sudah sangat membutuhkan sekolah negeri baru. Jika tempatnya ada, maka persaingan tidak akan terlalu ketat dan anak-anak bisa tertampung,” tegas warga.

Pesan yang ingin disampaikan masyarakat jelas: Prestasi harus menjadi tiket masuk, bukan menjadi korban sistem.

Mereka berharap kejadian tahun ini menjadi bahan evaluasi penting bagi Dinas Pendidikan dan Pemerintah Daerah. Jangan sampai di tahun depan masih ada anak berprestasi yang harus berdiri memegang kertas tulisan tangan, menanyakan keadilan atas usahanya sendiri. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *