Gema Tandu Jenderal Soedirman di Alun-Alun Purwokerto: Ketika Cicit Pak Dirman Unjuk Ketangkasan

 

​PURWOKERTO — Gemuruh derap langkah bersepatu PDL dan lengkingan aba-aba membakar semangat Alun-alun Purwokerto, Minggu (27/9/2026).

Sembilan tim terbaik tingkat SMA/SMK se-wilayah Korem 071/Wijayakusuma beradu presisi, kekompakan, dan ketangkasan dalam Lomba Ketangkasan Baris Berbaris (LKBB) Piala Panglima TNI demi menyemarakkan HUT ke-81 TNI.

Namun, arena pertandingan hari itu tak sekadar panggung unjuk kerapian formasi atau ketepatan gerak. Di balik hentakan kaki yang serempak, terhembus misi besar: menghidupkan kembali spirit kepahlawanan lokal dan mematri jiwa patriotisme dalam dada generasi muda Banyumas.

Komandan Korem 071/Wijayakusuma, Kolonel Inf Sidik Wiyono, S.H., M.Tr.(Han.), menegaskan bahwa baris-berbaris adalah kawah candradimuka paling efektif untuk menempal disiplin, kepemimpinan, dan mentalitas kelompok.

“Ini bukan cuma soal baris-berbaris. Ini tentang belajar kapan harus memimpin, kapan harus dipimpin, serta bagaimana menjaga kekompakan. Nilai-nilai inilah yang akan menjadi fondasi mereka dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Kolonel Inf Sidik Wiyono.

Ia juga mengingatkan para peserta akan warisan darah dan sejarah besar yang mengalir di tanah Banyumas. Sebagai tanah kelahiran Panglima Besar Jenderal Soedirman, para pelajar diimbau untuk tidak pernah kehilangan akar identitasnya.

“Ingatkan terus generasi muda di Banyumas, kita semua ini adalah cicit-cicitnya Pak Dirman,” pesannya penuh haru dan bangga.

​Tandu Perjuangan yang Tak Pernah Padam

​Suasana patriotik kian bergetar saat rangkaian acara disempurnakan dengan aksi Kirab Tandu Jenderal Soedirman. Kirab ini merefleksikan momen heroik tatkala sang Panglima Besar tetap memimpin perang gerilya di atas tandu meski dalam keterbatasan fisik yang amat parah.

Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menilai kirab tandu membawa pesan filosofis mendalam yang sangat relevan bagi anak muda zaman sekarang.

“Dalam kondisi sakit dan fisik yang sangat terbatas, Pak Dirman memilih tidak menyerah. Beliau tetap berjuang di atas tandu. Semangat itu menegaskan bahwa keterbatasan fisik maupun situasi bukanlah alasan untuk berhenti mengabdi,” tutur Sadewo.

Sadewo menambahkan, keteladanan Pak Dirman sangat sejalan dengan esensi LKBB—tentang ketaatan pada aturan, kerendahan hati untuk saling mendengarkan, dan keberanian mendahulukan kepentingan bersama.

“Banyumas adalah rahim bagi lahirnya jenderal-jenderal bangsa. Melalui momen ini, kita ingin api perjuangan Jenderal Soedirman tak sekadar dikenang sebagai sejarah, tetapi terus menyala dan diteladani dalam tindakan nyata,” pungkasnya. (git)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *