NGANJUK – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya jadi penyelamat gizi siswa, hari ini justru berubah jadi drama keterlambatan. SPPG Baron di bawah naungan Yayasan Kemala Bhayangkari kedapatan “ngaret parah” dalam pendistribusian makanan, Rabu (1/4/2026).
Sedikitnya empat sekolah terdampak, yakni MI Al Khoiriyah, MTs Al Khoiriyah, MI Miftakhurrohma, dan SDN 5 Katerban. Bukannya makan tepat waktu, para siswa justru harus menunggu hingga sekitar pukul 12.00 WIB—waktu yang sudah lewat jauh dari jam makan ideal.
Suasana di sekolah pun sempat dipenuhi tanda tanya. Siswa menunggu, guru gelisah, sementara makanan tak kunjung datang. Program yang digadang-gadang sebagai upaya peningkatan gizi malah berujung pada keluhan dan kekecewaan.
Menu yang akhirnya datang sebenarnya cukup lengkap: nasi, ayam kecap, tahu goreng, mix sayuran, hingga buah rambutan. Namun apa artinya menu bergizi jika datang saat anak-anak sudah terlanjur lapar?
Yang bikin makin panas, pihak SPPG Baron justru memilih “menghilang”. Saat dikonfirmasi, tidak ada jawaban, tidak ada klarifikasi—seolah tutup mata dengan kondisi di lapangan.
Keterlambatan ini memicu kritik keras. Program sebesar MBG dinilai tak boleh dikelola setengah hati. Jika distribusi saja amburadul, bagaimana bisa menjamin kualitas dan keberlanjutan program?
Pertanyaannya kini jelas: ini murni kendala teknis, atau ada yang tidak beres dalam pengelolaannya?
Yang pasti, hari ini para siswa jadi korban—menunggu lapar di tengah janji program bergizi. (*)












