Ketika Harapan Dititipkan di Nomor 110 : Polisi Kawal Perjalanan Demi Keselamatan

 

WONOGIRI  | Malam itu berjalan seperti biasa, sebagian orang telah terlelap, sebagian lainnya menikmati sisa waktu bersama keluarga. Namun di sebuah rumah di Jatisrono, waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya berpacu dengan kondisi seorang pasien yang membutuhkan pertolongan segera.

Dengan penuh kecemasan, Rudi (52) menggenggam teleponnya. Di tengah kepanikan, ia hanya punya satu harapan seseorang yang bisa membantu mempercepat perjalanan menuju rumah sakit. Ia pun menekan angka yang kini menjadi sandaran banyak orang di saat darurat,. adalah 110.

Di balik sambungan itu, Bripda Adi Cahyono sedang bertugas sebagai operator Call Center 110 Polres Wonogiri. Suara di seberang terdengar tegang, penuh harap. Tanpa banyak kata, ia memahami bahwa waktu adalah segalanya.

Dengan cepat dan penuh ketenangan, Bripda Adi meneruskan informasi tersebut kepada personel di lapangan. Dalam hitungan menit, koordinasi terjalin. Petugas bergerak. Sirine menjadi penanda bahwa harapan itu kini sedang dikawal.

Di jalanan malam yang lengang, kendaraan yang membawa pasien melaju di bawah pengawalan polisi. Setiap detik terasa berharga. Setiap meter perjalanan adalah langkah menuju keselamatan.

Dan akhirnya, mereka tiba.
Pasien berhasil sampai di RS Dr. Oen Solo Baru dan segera mendapatkan penanganan medis. Rasa cemas yang semula menyelimuti perlahan berubah menjadi lega.

“Alhamdulillah… kami sangat berterima kasih. Kalau tidak ada bantuan dari kepolisian, kami tidak tahu harus bagaimana,” ucap Rudi dengan suara bergetar, menyimpan haru yang tak bisa disembunyikan.

Di balik keberhasilan itu, ada sosok yang mungkin tak terlihat langsung di lapangan, adalah Bripda Adi, yang tetap setia di balik meja operator. Baginya, setiap panggilan bukan hanya laporan, tetapi amanah.

Ia mengakui, tugas di balik layanan 110 tidak selalu mudah. Terutama saat malam hari, ketika tubuh seharusnya beristirahat, namun pikiran harus tetap siaga.

“Kadang rasa lelah itu ada, apalagi kalau piket malam. Tapi begitu ada telepon masuk, semuanya harus langsung fokus. Karena kita tahu, di balik telepon itu ada orang yang sedang butuh pertolongan,” tuturnya pelan. Minggu (22/3)

Namun di balik lelah itu, ada kebahagiaan sederhana yang menjadi sumber kekuatan.

“Rasanya lega dan senang kalau kita bisa membantu. Apalagi kalau menyangkut keselamatan orang. Itu yang bikin kami tetap semangat,” tambahnya.

Kisah ini menjadi potret nyata bahwa pelayanan kepolisian tidak selalu terlihat di jalanan. Ada mereka yang bekerja dalam senyap, memastikan setiap laporan ditangani dengan cepat dan tepat.

Kasatgas Humas Ops Ketupat Candi 2026, Kombes Pol. Artanto, menegaskan bahwa kehadiran layanan 110 adalah wujud nyata komitmen Polri dalam melindungi masyarakat.

“Setiap panggilan yang masuk adalah amanah yang harus dijawab dengan cepat dan profesional. Kami ingin memastikan bahwa masyarakat tidak pernah merasa sendiri saat menghadapi situasi darurat. Polri akan selalu hadir, memberikan perlindungan dan pelayanan terbaik,” ungkapnya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak ragu memanfaatkan layanan 110 sebagai sarana komunikasi cepat dengan kepolisian.

Di balik satu dering telepon, ada harapan yang disambut.
Di balik satu respons cepat, ada nyawa yang terselamatkan.

Dan di balik semua itu, ada dedikasi tanpa henti dari insan Bhayangkara.yang selalu siap hadir, bahkan di saat paling genting sekalipun. (*/Yusup)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *