PURBALINGGA | Laga panas Derby Ngapak antara Persibangga Purbalingga kontra Persibas Banyumas dalam lanjutan Liga 4 Jateng yang berakhir dengan skor telak 4-1, Minggu (18/1), menyisakan insiden serius di luar lapangan.
Ketua Umum Persibas Banyumas, Trisno Sudarso, mengalami luka di bagian hidung setelah terkena lemparan puing-puing batu sesaat usai pertandingan.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar 10 menit setelah laga berakhir. Saat itu, Trisno berada di depan stadion dan hendak menuju area parkir.
“Saya kena lemparan puing-puing. Hidung lecet, keluar darah sedikit,” kata Trisno kepada wartawan.
Menurut Trisno, lemparan berasal dari arah dalam stadion menuju ke luar. Ia menilai aksi tersebut sangat membahayakan, karena siapa pun bisa menjadi korban.
“Saya di depan stadion mau jalan ke parkiran, dari dalam ada yang melempar ke luar. Padahal yang di luar bisa saja banyak orang Purbalingga. Saya yakin yang di dalam orang Purbalingga semua,” ujarnya.
Ia menyayangkan insiden tersebut dan menilai panitia pelaksana pertandingan harus melakukan evaluasi serius agar kejadian serupa tidak terulang pada laga berikutnya.
“Ini sangat disayangkan. Waktu Persibangga bertanding di Purwokerto, kami sebagai tuan rumah benar-benar mengawal dan tidak terjadi hal seperti ini,” tegasnya.
Meski demikian, Trisno menegaskan rivalitas Persibangga dan Persibas seharusnya hanya terjadi di atas lapangan selama pertandingan berlangsung.
“Rivalitas cukup 2×45 menit. Setelah itu kita saudara,” katanya.
Kinerja Panpel Disorot
Sementara itu dilaporkan, bahwa tidak hanya insiden pelemparan puing-puing batu. Namun, ada aksi pelemparan helm yang melayang dan mengenai sejumlah penonton.
Atas insiden memalukan tersebut, sejumlah suporter Persibas Banyumas sangat menyayangkan kejadian itu. “Ini memalukan. Saat ada pertandingan di Stadion Satria Purwokerto, semua penonton digeledah, bahkan tidak diperbolehkan membawa botol plastik. Lha ini, kok ada batu dari dalam stadion?,” ujar Eko, mewakili sejumlah suporter Persibas
Terkait hasil pertandingan, ada kalah dan menang. Ini jadi pembelajaran. Kalau setiap main menang, pemain bisa jumawa. Namun untuk kedepannya panapel di Purbalingga diharapkan dapat memberikan kinerja yang lebih maksimal. (sat)












