Gabrakkasus.com – Persahabatan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Prabowo Subianto bukan sekadar hubungan politik masa kini.
Akar kedekatan mereka berdua justru sudah tumbuh jauh sebelumnya ketika keduanya masih berpangkat Kolonel, berdinas aktif, dan menjadi bintang muda di tubuh ABRI.
Kisah itu kembali mencuat ketika Prabowo mengenang SBY dengan nada hangat dan penuh humor.
“Intelnya Pak SBY masih kuat. Dia tahu kelemahannya Prabowo itu nasi goreng. Asal diberi nasi goreng, saya pasti setuju saja.”
Ucapan itu disambut gelak tawa para politisi di Cikeas, menunjukkan betapa cair hubungan keduanya, meskipun kini berada di jalur politik yang berbeda.
Mereka memang tak berkoalisi, namun keduanya sepakat menjalin komunikasi lebih erat antara Hambalang dan Cikeas, dua pusat kekuatan politik yang sering mencuri perhatian publik.

Foto Bersejarah: Dua Kolonel Berbaret Hijau
Foto lawas yang kembali beredar memperlihatkan SBY dan Prabowo berdiri berdampingan dalam pakaian dinas upacara, lengkap dengan baret hijau pasukan lintas udara. Foto ini diperkirakan diambil sekitar 1991–1993, saat Prabowo menjabat Kepala Staf Brigif Linud 17 Kostrad, dan SBY menjabat Korspri Pangab.
Pada masa itu, keduanya dianggap sebagai generasi emas ABRI. Majalah GATRA pada 1995 bahkan memasukkan mereka ke dalam daftar perwira muda dengan masa depan paling cerah.
⚔️ Prabowo: Sang Petarung
Prabowo dikenal sebagai perwira tempur dengan segudang prestasi. Ia beberapa kali menerima kenaikan pangkat luar biasa berkat keberhasilannya di medan operasi. Identik dengan Korps Baret Merah Kopassus, Prabowo juga beberapa kali bertugas di Kostrad, memperkuat reputasinya sebagai jenderal lapangan.
Tahun 1995, ia dipromosikan menjadi Brigadir Jenderal saat menjabat Danjen Kopassus.
Setahun kemudian, ketika Kopassus dimekarkan menjadi lima grup, jabatan Danjen menjadi pangkat Mayor Jenderal, dan Prabowo pun naik menjadi bintang dua.
Namun jalannya terhenti pada 1998. Di tengah badai politik, Prabowo dipindahkan menjadi Komandan Sesko TNI—jabatan nonpasukan pertama dalam kariernya. Dari sana, karier militernya meredup.

🎖️ SBY: Sang Pemikir
Berbeda dari Prabowo yang dikenal agresif di medan tempur, SBY dikenal sebagai perwira pemikir dengan kemampuan diplomasi dan analisis yang kuat.
Ia pernah menjadi Kepala Pengamat Militer PBB di Bosnia, sebuah penugasan prestisius.
Dalam dunia tempur, SBY juga tak kalah matang. Ia pernah memimpin batalyon di Dili dan menorehkan pengalaman operasional langsung.
SBY promosi menjadi Brigadir Jenderal sebagai Kepala Staf Kodam Jaya, lalu berkembang hingga menjadi Pangdam Sriwijaya.
Setelah reformasi, kariernya justru meroket di jalur pemerintahan: menjadi menteri di era Gus Dur dan Megawati, lalu mendirikan Partai Demokrat dan memenangkan Pemilu 2004 dan 2009, menjadikannya Presiden RI dua periode.
🏛️ Dari Kolonel ke Pemimpin Politik
Kedua tokoh ini pernah saling berhadapan dalam kontestasi politik.
Tahun 2009, pasangan SBY–Boediono mengalahkan Mega–Prabowo.
Tahun 2014, giliran Prabowo–Hatta dikalahkan Jokowi–JK.
Dan pada akhirnya sekarang Prabowo Subianto menjadi presiden Republik Indonesia.
Kini, keduanya kembali bertemu. Bukan lagi sebagai kolonel muda berambisi, tetapi sebagai pemimpin partai, tokoh bangsa, dan politisi senior. Sumber : Merdeka.com.***












