PURWOREJO |Di antara hiruk pikuk Pasar Kutoarjo, aroma khas klembak menyan masih setia bertahan. Wangi tembakau yang bercampur kemenyan dan akar klembak itu berasal dari lapak sederhana milik Ibang (72), pedagang klembak menyan yang telah berjualan hampir setengah abad.
Sejak 47 tahun lalu, Ibang yang berdomisili di Pereng, Kutoarjo ini menggantungkan hidup dari tembakau dan rokok lintingan tradisional khas Purworejo.
Kini, sejak dua tahun terakhir, ia berjualan di depan pasar, menyusul kebakaran besar yang melanda Pasar Kutoarjo pada Agustus 2024.
“Baru dua tahun ini di depan pasar. Dulu lama sekali jualan di dalam,” ujar Ibang, Rabu (4/2).
Baginya, berjualan di dalam pasar punya kenangan tersendiri. Pembeli lebih ramai, suasana lebih hidup, dan penghasilan pun terasa lebih menjanjikan.
Namun keadaan memaksanya beradaptasi, seperti halnya klembak menyan yang tetap bertahan meski zaman terus berubah.
Klembak menyan yang dijual Ibang dikenal di kalangan pelanggan setianya. Lintingannya dianggap pas—tidak terlalu padat, ringan ditarik, tapi tetap “berasa”.
“Kalau saya cocok lintingannya Mbah Ibang, tarikannya enteng tapi tetap ada rasanya,” kata Alex Saputra, pelanggan asal Kaliwatubumi.

Bahan baku yang digunakan pun bukan sembarangan. Ibang mengaku sebagian besar tembakau yang dijualnya adalah tembakau asli Purworejo, terutama jenis Tepus campur Bendungan. Harga tertinggi tembakau lokal itu mencapai Rp50 ribu per ons, meski masih tersedia pilihan dengan harga lebih terjangkau.
Di tengah pasar yang kian modern dan selera konsumen yang didominasi generasi tua, klembak menyan tetap memiliki tempat tersendiri. Selain dihisap, rokok tradisional ini kerap digunakan untuk keperluan adat, selamatan, hingga ritual sedekah bumi dan laut di desa-desa.
Ibang bukan sekadar pedagang. Ia juga saksi hidup perjalanan panjang Pasar Kutoarjo. Bahkan sebelum pasar berdiri di lokasi sekarang, ia sudah berjualan saat pasar masih berada di sekitar Alun-alun Kutoarjo.
“Dulu sebelum di sini, pasarnya pernah di area alun-alun,” kenangnya.
Pasar Kutoarjo sendiri memiliki sejarah panjang sebagai pusat ekonomi wilayah barat Purworejo. Dibangun dan direhabilitasi pada 1997, pasar ini pernah menjadi nadi perdagangan sejak Kutoarjo berstatus kawedanan pada masa Hindia Belanda.
Kebakaran besar 2024 menjadi salah satu bab pahit dalam sejarahnya, memaksa ratusan pedagang—termasuk Ibang—untuk memulai kembali dari luar bangunan.
Namun, seperti aroma klembak menyan yang tak mudah hilang, ketekunan Ibang pun tetap bertahan. Di usianya yang senja, ia masih setia melinting tembakau, menjaga tradisi, dan menjadi bagian dari denyut ekonomi rakyat Pasar Kutoarjo—pelan, sederhana, tapi penuh makna. (str)












