Pernyataan Pandji soal Keadilan Kembali Menggema, Publik Terbelah

Gebrakkasus.cm – Jakarta – pada hari Sabtu tanggal 11/1/2025 – Nama komika sekaligus pengamat sosial Pandji Pragiwaksono kembali menjadi perbincangan publik setelah potongan video pernyataannya tentang keadilan dan kekuasaan kembali viral di media sosial.

Dalam pernyataan tersebut, Pandji menyampaikan kritik keras terhadap kondisi penegakan hukum dan etika bernegara di Indonesia.

β€œSoal keadilan, hari ini kita cuma bisa berharap pada diri kita sendiri. Mau berharap sama siapa..?

*Polisi membunuh, tentara berpolitik, presiden memaafkan koruptor, wapres kita… Gibran,” ujar Pandji dalam potongan video yang ramai dibagikan ulang didalam grup.*

Ucapan tersebut disampaikan dengan gaya khas Pandji: satir, lugas, dan frontal.

Namun di balik gaya itu, tersimpan kegelisahan yang dirasakan sebagian masyarakat terkait arah keadilan dan kepercayaan terhadap institusi negara.

*Pandji menyoroti kondisi di mana aparat penegak hukum kerap terseret kasus kekerasan, institusi militer dinilai mulai masuk ke ranah politik, serta adanya kebijakan atau sikap yang dianggap terlalu lunak terhadap pelaku korupsi.*

*Menurutnya, situasi ini membuat rasa aman dan keadilan publik semakin terkikis.*

Pernyataan tersebut langsung memantik respons beragam. Sebagian publik menganggap ucapan Pandji sebagai representasi kegelisahan kolektif rakyat yang merasa semakin jauh dari keadilan substantif.

Namun, tidak sedikit pula yang menilai pernyataan tersebut terlalu provokatif, berlebihan, bahkan politis.

Meski menuai pro dan kontra, satu hal yang tak terbantahkan adalah pernyataan ini kembali membuka diskusi besar tentang posisi rakyat dalam sistem demokrasi.

Ketika kepercayaan terhadap lembaga negara melemah, pertanyaan mendasar pun muncul: kepada siapa rakyat harus menggantungkan harapan akan keadilan?

Pandji sendiri menegaskan bahwa pesannya bukan untuk memprovokasi, melainkan mengajak publik untuk tetap kritis, sadar, dan berani bersuara.

Baginya, ketika sistem dianggap gagal melindungi nilai keadilan, tanggung jawab moral warga negara justru semakin besar untuk menjaga akal sehat dan etika bersama.

Di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi opini, pernyataan ini menjadi pengingat bahwa kritik, meski pahit, tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi.

Apakah kritik tersebut akan melahirkan perbaikan atau justru memperdalam perpecahan, semua kembali pada cara negara dan masyarakat meresponsnya.

Zona Otomotif mencatat, isu keadilan publik bukan hanya persoalan hukum semata, tetapi juga menyentuh rasa kepercayaan, keberanian bersuara, dan konsistensi negara dalam menegakkan prinsip keadilan bagi seluruh warganya.

*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *